Teks Bacaan Surah Al Kafirun

Surah Al Kafirun

Surah Makiyyah

Surah ke-109 6 Ayat

بسم الله الرحمن الرحيم

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

1 Qul yaa ayyuhal kaafiruun

1 Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!


لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

2 Laa a’ budumaa ta’ buduuun

2 Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,


وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

3 Walaa antum ‘a~ biduuna maa a’bud

3 Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,


وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ

4 Walaa ana a’~ bidum maa ‘abadtum

4 Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah


وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

5 Walaa antum ‘a~ biduuna maa a’bud

5 Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,


لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

6 Lakum diinukum waliyadiin

6 Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.


 

Asbabun Nuzul dan Tafsir

Asbabun Nuzul

Photo by Harilinn

Diriwayatkan dari At Thabrani dan Ibnu Abi Hathim, dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Quraisy menawarkan kepada Rosulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam harta yang banyak sehingga Ia akan menjadi orang terkaya di Mekkah dan akan dinikahkan dengan perempuan yang dikehendakinya.

Mereka mengatakan, “Ini untukmu, wahai Muhammad! Namun, berhentilah menghina tuhan-tuhan kami dan berhentilah mengucapkan kata-kata buruk terhadap mereka, tapi jika engkau masih keberatan, bagaimana jika engkau menyembah  tuhan kami selama 1 tahun saja, kemudian kami akan menyembah tuhanmu selama 1 tahun juga.” 

Mendengar tawaran orang-orang Quraisy itu, Rosulullah menjawab, “Aku akan menunggu sampai Allah memberikan jawabannya.” 

Allah kemudian menurunkan ayat, “Katakanlah (muhammad), Wahai orang-orang kafir!'” dan juga ayat  “Katakanlah (Muhammad), Apakah kalian menyuruhku menyembah selain kepada Allah, wahai orang-orang yang jahil?” (Az Zumar: 64)

Riwayat Lain

  • Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Mina yang berkata, “Suatau hari, 4 petinggi Quraisy Walid Ibnu Al Mughiroh, Al ‘Ash bin Wa’il Al Aswad Ibnul Mutholib  dan Umayyah bin Khalaf menemui Rosulullah.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad, mari menyembah tuhan yang kami sembah dan sebagai balasannya kami juga akan  menyembah tuhan yang kamu sembah. selanjutnya kami akan mengikut sertakan engkau dalam seluruh urusan kami.” kemudian allah menurunkan surah ini.

  • Menurut riwayat lain, Ada beberapa orang kaum musyrik, termasuk al-Walid bin Mughiroh dan al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf datang menemui Rasulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap Tuhan-Tuhan mereka.

ketika Nabi Shallaulahu ‘alaihiwasallam menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jika anda menyembah Tuhan-  Tuhan kami sehari, dan kami menyembah Tuhanmu sehari (bergantian)?.”

Tetapi tawaran itu juga ditolak oleh Nabi Shallaulahu ‘alaihiwasallam dan turunlah surah al-Kafirun (sebagai penegasan bahwa tidak ada toleransi di dalam peribadatan). Mengetahui surat ini turun untuk memberitahu pada umat manusia terutama umat Muhammad Shallaulahu ‘alaihiwasallam bahwa Islam tidak mengenal toleransi dalam hal keimanan dan peribadatan.

  • Abdurrazzaq meriwayatkan dari Wahab yang berkata, “Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah, ‘Maukah engkau mengikuti agama kami setahun dan kami juga akan mengikuti agamu setahun?’ Allah lalu menurunkan ayat-ayat dalam surah ini secara keseluruhan.”
  • Ibnul Mundzir meriwayatkan hal yang senada dari Ibnu Juraij.

Tafsir Singkat Surah Al Kafirun

everything-sunnah.com

Ayat Pertama

1 { قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ } 

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir.” (Al-Kafirun: 1)

Mencakup seluruh orang kafir yang ada di muka bumi, tetapi lawan bicara dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang kafir Quraisy. Menurut suatu pendapat, di antara kebodohan mereka ialah, mereka pernah mengajak Rasulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam untuk menyembah berhala-berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka pun akan menyembah sembahannya selama satu tahun.

Maka dari itu Allah Subhanahu wata’ala menurunkan surat ini dan memerintahkan kepada Rasul-Nya dalam surat ini agar memutuskan hubungan dengan agama mereka secara keseluruhan; untuk itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Ayat Kedua sampai Ayat Keempat

2 { لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ }

Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. (Al-Kafirun: 2)

Yaitu berhala-berhala dan sekutu-sekutu yang mereka ada-adakan.

3 { وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ }

Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (Al-Kafirun: 3)

Yaitu Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Lafaz ma di sini bermakna man. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

4 { وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ }

Dan aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (Al-Kafirun: 4-5)

Yakni aku tidak akan melakukan penyembahan seperti kalian lakukan. Dengan kata lain, aku tidak akan menempuh cara itu dan tidak pula mengikutinya. Sesungguhnya yang aku sembah hanyalah Allah semata sesuai dengan apa yang disukai dan diridhoi-Nya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya di ayat selanjutnya:

Ayat kelima

5 { وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ }

dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (Al-Kafirun: 5)

Artinya, kalian tidak mau menuruti perintah-perintah Allah dan syariat-Nya dalam beribadah kepada-Nya, melainkan kalian telah membuat-buat sesuatu dari diri kalian sendiri sesuai hawa nafsu kalian. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَما تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدى

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An-Najm: 23)

Maka Rasulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam berlepas diri dari mereka dalam semua yang mereka kerjakan, karena sesungguhnya seorang hamba itu harus mempunyai Tuhan yang disembahnya dan cara ibadah yang ditempuhnya.

Rasul dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh-Nya. Untuk itulah maka kalimah Islam ialah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.’

Dengan kata lain, tiada yang berhak disembah selain Allah, dan tiada jalan yang menuju kepada-Nya selain dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam Sedangkan orang-orang musyrik menyembah selain Allah dengan cara penyembahan yang tidak diizinkan oleh Allah.

Karena itulah maka Rasulullah Shallaulahu ‘alaihiwasallam. berkata kepada mereka, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala :

Ayat Keennam

6 { لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ }

Untuk kalianlah agama kalian dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Yunus: 41)

Dan firman Allah Swt.:

لَنا أَعْمالُنا وَلَكُمْ أَعْمالُكُمْ

bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian. (Al-Baqarah: 139)

Imam Al Bukhari mengatakan bahwa kata-kata: Untukmulah agamamu. (Al-Kafirun: 6) Yakni kekafiran. dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6) Yaitu agama Islam, dan tidak disebutkan dini, karena akhir semua ayat memakai huruf nun, maka huruf ya-nya dibuang. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain:

وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيراً مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْياناً وَكُفْراً

Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. (Al-Maidah: 64)

{ فَهُوَ يَهْدِينِ }

maka Dialah (Allah) yang menunjuki aku. (Asy-Syu’ara: 78)

Lalu pada firman Allah Subhanahu wata’ala:

{ يَشْفِينِ }

Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku. (Asy-Syu’ara: 80)

Ibnu Jarir telah menukil dari sebagian ahli bahasa Arab, bahwa ungkapan seperti ini termasuk ke dalam Bab “Taukid (Pengukuhan)” sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah di ayat:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alain Nasyrah: 5-6)

Dan firman Allah Subhanahu wata’ala:

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّها عَيْنَ الْيَقِينِ

niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (At-Takatsur: 6-7)

 

Photo by Harilinn

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh sebagian dari Ulama tafsir seperti Ibnul Jauzi dan lain-lainnya dari Ibnu Qutaibah.

Kesimpulan

Kesimpulan dari penjelasan diatas ada 4 pendapat sehubungan dengan makna ayat-ayat surat ini.

Pendapat yang Pertama

Adalah sebagaimana yang telah di jabarkan diatas

Pendapat yang Kedua

Adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan dari para ulama ulama tafsir, bahwa makna yang dimaksud dari firman Allah:

aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.” (Al-Kafirun: 2-3) Ini berkaitan dengan masa lampau, sedangkan dalam firman Allah:

“Dan aku bukan penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukan pula penyembah Tuhan yang aku sembah.” (Al-Kafirun: 4-5) Ini berkaitan dengan masa yang akan datang.

Pendapat yang Ketiga

Pendapat ini yang mengatakan bahwasannya hal tersebut merupakan taukid (pengukuhan kata) semata.

Pendapat yang Keempat

pendapat ini didukung oleh Abu Abbas ibnu Taimiyah dalam salah satu bukunya. Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah:

“aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.” (Al-Kafirun:2) menunjukkan perbuatan, karena kalimatnya adalah jumlah fi’liyyah, sedangkan dalam firman Allah:

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah.” (Al-Kafirun: 4) menafikan penerimaan tawaran tersebut secara keseluruhan, karena makna jumlah ismiyah yang dinafikan pengertiannya lebih kuat daripada jumlah fi’liyah yang dinafikan.

Jadi, seakan-akan yang ditunjukkan bukannya hanya perbuatannya saja, tetapi juga kejadiannya dan pembolehan dari hukum syara’. Pendapat ini dinilai cukup baik pula. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Abu Abdullah Asy-Syafii dan yang lainnya telah menyimpulkan dari ayat ini, yaitu dalam firman Allah: 

“Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” (Al-Kafirun: 6)

Sebagai suatu dalil yang menunjukkan bahwa kufur itu semuanya sama, karenanya orang Yahudi dapat mewaris dari orang Nasrani (dalam ilmu waris) begitu juga sebaliknya, jika di antara keduanya terdapat hubungan nasab atau penyebab yang menjadikan keduanya bisa saling mewaris. Karena sesungguhnya semua agama selain Islam bagaikan sesuatu yang tunggal dalam hal kebatilannya.

Imam Ahmad ibnu Hambal dan ulama lainnya yang sependapat dengannya mengatakan bahwa orang Nasrani tidak dapat mewaris dari orang Yahudi, demikian pula sebaliknya. Karena ada hadis yang diriwayatkan dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallaulaahu ‘alaihiwasallam telah bersabda:

( لَا يَتَوَارَثُ أَهْلُ مِلَّتَيْنِ شَتَّى )

Dua orang pemeluk agama yang berbeda tidak dapat saling mewaris di antara keduanya.

Demikianlah tafsir Surah Al-Kafirun, segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala atas segala limpahan karunia dan kasih sayang-Nya

terima kasih telah membaca sampai akhir..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *