bacaan surat Ad duha

Bacaan Surat Ad Duha

 

Surah Ad-Dhuha

Surah Ke 93

Surah Makiyyah 11-Ayat

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


1 وَالضُّحٰىۙ

1 Wadduhaa

Demi waktu dhuha (ketika matahari sepenggalan naik)


وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى 2

2 Wallaili idzaa sajaa

Dan demi malam apabila telah sunyi.


3 مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

3 Maa wadda’aka robbuka wamaa qolaa

Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,*910

910. Ketika turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad Shallaulaahualaihiwasallam terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata,” Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat ini untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu.


4 وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الأُولَ

4 Walal aakhirotu khoirul laka minal ‘uulaaa

Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.*911

911. Akhir perjuangan Nabi Muhammad Shallaulaahualaihiwasallam itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaanya penuh dengan kesulitan-kesulitan.

Ada juga sebagian Mufasir yang mengartikan akhirat dengan “Kehidupan akhirat” beserta segala kesenangannya dan “Uulaa” dengan arti “kehidupan Dunia”


5 وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

5 Walasaufa yu’tiika robbuka fatardhoo

Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.


6 أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى

6 Alam yajidka yatiimang~ fa aawaaa

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),


7 وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

7 Wawajada kadhool lann fahadaa

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung,*912 lalu Dia memberikan petunjuk,

912. Kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai dengan akal pikiran.

Lalu Allah menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad Shallaulaahualaihiwasallam.


8 وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَ

8 Wawajada ka’aaaa ilang~ fa aghnaaa

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.


9 فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ

9 Fa ammal yatiima falaa taqhar

Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.


10 وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ

10 Wa ammas saa ila falaa tanhar

Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).


11 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

11 Wa ammaaa bini’mati robbika fahaddist

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).


Asbabun Nuzul dan Penjelasan Tafsir

Bagian Pertama sampai Ketiga

Bacaan Surat Ad Duha
Photo by Harilinn

Berkaitan dengan Asbabun Nuzul (sebab turunnya) surat ini, ada beberapa riwayat atau hadits yang shahih, di antaranya hadits Jundub bin Abdillah bin Sufyan al Bajali Radhiyallahuanhu , ia berkata :

اِحْتَبَسَ جِبْرِيْلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، فَقَالَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ: أَبْطَأَ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ. فَنَـزَلَتْ: وَالضُّحَى. وَاللَّـيْلِ إِذاَ سَجَى. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

Jibril Alaihisallam tertahan (tidak kunjung datang) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan Wahyu, lalu berkata seorang wanita[2] dari Quraisy : “Setannya terlambat datang kepadanya,” maka turunlah :

وَالضُّحَىٰ ﴿١﴾   وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ﴿٢﴾   مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

((1)Demi waktu matahari sepenggalahan naik. (2)Dan demi malam apabila telah sunyi. (3)Rabb-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.[3]

Bagian Keempat

Di dalam riwayat yang lain dengan sedikit perbedaan lafazh, Jundub bin Abdillah al Bajali Radhiyallahuanhu berkata:

اِشْتَكَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَـتَيْنِ أَوْ ثَلاَثاً، فَجَاءَتْ اِمْرَأَةٌ، فَقَالَتْ : يَا مُحَمَّدُ، إِنِّيْ لأَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ، لَمْ أَرَهُ قُرْبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثاً. فَأَنْزَلَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu dan tidak keluar selama dua atau tiga malam. Lalu datang seorang wanita, dan berkata: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya aku sangat berharap agar setanmu benar-benar telah meninggalkanmu. Aku tidak melihatnya selama dua atau tiga malam,” maka Allah turunkan “Wadduhaa, Wallaili idzaa sajaaa, Maa wadda’aka robbuka wamaa qalaa …” (surat adh Dhuha).[4]

Bagian Kelima dan Keenam

Lalu ada juga beberapa riwayat dan hadits lainnya yang berkaitan dengan (sebab turunnya) surat ini, namun seluruhnya berkisar antara Hadist dha’if (lemah), dha’ifun jiddan (lemah sekali), dan munkar (menyelisihi riwayat yang shahih).[5]

Pada ayat pertama surat adh Dhuha ini, Allah Subhanahuwa Ta’ala bersumpah dengan waktu dhuha. Yaitu waktu ketika menjelang siang, saat matahari mulai naik dan menerangi dengan cahayanya.

Lalu di ayat yang kedua, Allah Subhanahuwa Ta’ala bersumpah dengan waktu malam yang tenang, sunyi dan gelap gulita.[6]

Bagian Ketujuh

Kemudian pada Ayat ketiga pada surat ini, merupakan jawaban dari sumpahNya terhadap hal-hal yang disebutkan pada dua ayat sebelumnya. Yang maknanya yaitu, Allah Subhanahuwa Ta’ala tidak meninggalkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak (pula) membencinya sejak Allah Subhanahuwa Ta’ala mencintainya.

Bahkan Allah Subhanahuwa Ta’ala tetap bersamanya (Nabi Muhammad), membimbingnya, dan meninggikan derajatnya setingkat demi setingkat. Hal ini menunjukkan, bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu‘alaihiwasallam , dari dahulu sampai pada saat turunnya ayat ini, beliau Shallallahu‘alaihiwasallam berada dalam keadaan yang sangat baik dan sempurna.

Bacaan Surat Ad Duha
Photo by Harilinn

Allah Subhanahuwa Ta’ala senantiasa mencintai dan membimbingnya. Sehingga, ayat ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan wanita musyrik tersebut yang berprasangka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditinggalkan dan dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.[7]

Bagian Kedelapan

Pada ayat selanjutnya, Allah Subhanahuwa Ta’ala menerangkan bahwa keadaan Rasulullah Shallallahu‘alaihiwasallam pada masa yang akan datang akan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Sehingga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terus selalu mendapatkan bimbingan Allah Subhanahuwa Ta’ala , hingga beliau benar-benar mendapatkan derajat tertinggi di sisiNya.

Allah Subhanahuwa Ta’ala akan senantiasa membelanya, memenangkan agamaNya di atas musuh-musuhnya, senantiasa membimbingnya hingga beliau wafat.

Dan sungguh, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihiwasallam telah mencapai derajat tersebut. Yaitu sebuah derajat yang tidak akan pernah dicapai oleh siapapun dari orang-orang terdahulu sebelum beliau dan orang-orang yang datang sepeninggal beliau, berupa keutamaan-keutamaan dan kenikmatan-kenikmatan yang begitu banyak dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[8]

Bagian Kesembilan

Bacaan Surat Ad Duha
Photo by Harilinn

Seorang Mufassir terkenal, Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

”Maksud ayat ini adalah, akhirat lebih baik bagimu (wahai Muhammad) daripada dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling zuhud (merasa cukup dan tidak terlalu membutuhkan,) di dunia ini.

Beliau (Nabi Muhammad) adalah orang yang paling jauh dari keduniaan, sebagaimana telah diketahui dari seputar sejarah hidup beliau.

Tatkala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan pilihan (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) pada akhir usia beliau, (yakni pilihan) antara tetap hidup kekal di dunia ini yang akhirnya mengantarkan beliau ke surga, dan (pilihan berupa) segera pergi menuju Allah Azza wa Jalla, beliau pun memilih apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , daripada kehidupan di dunia ini”. [9]

Bagian Kesepuluh

Lalu Sang Mufassir al Hafizh Ibnu Katsir membawakan hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahuanhu , ia berkata:

نَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَلَى حَصِيْرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: ((مَا لِيْ وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ أَسْتَظِلُّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا)).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di atas tikar, lalu beliau bangun, sedangkan di tubuh beliau terdapat bekas tikar, kami pun berkata: “Wahai, Rasulullah. Seandainya (tadi) kami siapkan untukmu alas pelapis (tikar),”

Beliau pun bersabda : “Apalah (artinya) untukku semua yang ada di dunia ini? Tidaklah diriku berada di dunia ini, melainkan bagai pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya?” [10]

Bagian Kesebelas

Berkaitan dengan penjelasan al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di atas, ada juga sebuah hadits shahih dari ‘Aisyah Radhiyallahuanha , beliau berkata :

كَانَ النَِّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَقُوْلُ وَهُوَ صَحِيْحٌ: ((إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، ثُمَّ يُخَيَّرُ))، فَلَمَّا نُزِلَ بِهِ وَرَأْسُهُ عَلَى فَخِذِيْ، غُشِيَ عَلَيْهِ سَاعَةً، ثُمَّ أَفَاقَ، فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى السَّقْفِ، ثُمَّ قَالَ: ((اَللَّهُمَّ الرَّفِيْقَ الأَعْلَى))، قُلْتُ: إِذاً، لاَ يَخْتَارُنَا، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَدِيْثُ الَّذِيْ كَانَ يُحَدِّثُنَا بِهِ، قَالَتْ: فَكَانَتْ تِلْكَ آخِرَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَوْلَهُ: ((اَللَّهُمَّ الرَّفِيْقَ الأَعْلَى)).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tatkala (beliau) masih dalam keadaan sehat : “Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun yang diwafatkan (oleh Allah) hingga ia melihat tempatnya di surga, kemudian ia diberi pilihan,”

Maka tatkala beliau sakit dan kepalanya berada di atas pahaku (Aisyah), beliau pingsan sejenak, kemudian beliau sadarkan diri dan membelalakkan matanya ke langit-langit, kemudian berkata: “Ya, Allah. (Aku memilih derajat di sisiMu) Yang Maha Tinggi”,

Aku (Aisyah) berkata: “Kalau begitu, beliau tidak lagi memilih kami. Akupun mengetahui bahwa itu adalah hadits yang dahulu pernah beliau sampaikan kepada kami. Itulah kata terakhir yang beliau ucapkan, yaitu: “Ya, Allah. (Aku memilih derajat di sisiMu) Yang Maha Tinggi”[11].

Bagian Ke Dua belas

Kemudian Allah Subhanahuwa Ta’ala berfirman di ayat yang kelima :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

“Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”.

Di ayat ini, Allah Subhanahuwa Ta’ala menjelaskan dan menegaskan kembali bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diberi karunia dan pemberianNya sampai beliau ridho.

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di t berkata,”Ayat ini merupakan sebuah ungkapan (atas karunia dan pemberian Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang tidak mungkin ada ungkapan lainnya yang lebih umum dan gamblang dari ungkapan ini.”[12]

Bagian Ke Tiga belas

Berkaitan dengan ayat ini, terdapat sebuah riwayat dari Ali bin Abdillah bin ‘Abbas, dari ayahnya (Sahabat Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma ), ia berkata:

أُرِيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَا يُفْتَحُ عَلَى أُمَّتِهِ مِنْ بَعْدِهِ، فَسُرَّ بِذَلِكَ فَأَنْزَلَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ: وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى، إِلَى قَوْلِهِ: وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى، قَالَ: فَأَعْطَاهُ أَلْفَ قَصْرٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ لُؤْلُؤٍ تُرَابُهُ الْمِسْكُ، فِي كُلِّ قَصْرٍ مِنْهَا مَا يَنْبَغِيْ لَهُ.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan hal-hal yang akan dibukakan (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk umatnya sepeninggalnya. Beliau pun merasa gembira dengannya, maka Allah turunkan:

وَالضُّحَىٰ ﴿١﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

(Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi), sampai pad firman Allah:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

(Dan kelak pasti Rabb-mu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas).

Dia (Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahuanhuma) berkata: “Maka Allah pun memberinya seribu istana yang terbuat dari mutiara di surga. Tanahnya adalah misik (minyak wangi). Dan di setiap istana tersebut (tersedia) apa-apa yang sudah selayaknya untuknya”. [13]

Bagian Keempat belas

Seorang Mufassir Al Hafizh Ibnu Katsir berkata,”(Hadits ini) diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (ath Thabari) dari jalannya. Dan sanad (hadits ini) shahih sampai Ibnu ‘Abbas. Dan perkara seperti ini tidak mungkin dikatakan, kecuali dengan persaksian (pembenaran) (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”[14]

Bagian Kelima belas

Ada juga hadits shahih lain yang berkaitan dengan ayat ini, yaitu hadits dari Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahuanuma , ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ تَلاَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ إِبْرَاهِيْمَ: رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِيْ فَإِنَّهُ مِنِّيْ، وَقَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ: إِنْ تُعَذَِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ: ((اَللَّهُمَّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ))، وَبَكَى، فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا جِبْرِيْلُ، اِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيْكَ؟ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَسَأَلَهُ، فَأَخْبَرَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ، فَقَالَ اللهُ: يَا جِبْرِيْلُ، اِذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِيْ أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوْءُكَ.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman AllahTa’ala (atas lisan) Ibrahim Alaihissallam :

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي

(Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku –  Surah Ibrahim ayat 36).

Dan berkata Nabi ‘Isa Alaihissallam :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

(Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana – Surah Al Maidah ayat 118).

Kemudian beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Allah, umatku…umatku,” dan menangis. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad, dan Rabb-mu lebih mengetahui. Dan tanyalah (kepadanya), apa yang membuatmu menangis?”

Lalu Malaikat Jibril Alaihissallam pun mendatangi dan bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rosulullah memberitahukannya, dan Allah lebih mengetahuinya, kemudian Allah berkata: “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad, dan katakanlah,’Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha dan (Kami) tidak akan berbuat buruk kepadamu.”[15]

Bacaan Surat Ad Duha
Photo by Harilinn

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______

Footnote

[1]. Lihat Tafsir ath Thabari (30/277), al Jami’ li Ahkam al Qur`an (20/82), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (8/423), ad Durr al Mantsur (8/539), Taisir al Karim ar Rahman (2/1176). Dan al Imam al Qurthubi di dalam tafsirnya (20/82) berkata: “(Surat ini) makkiyah menurut kesepakatan (ulama)”. Lihat pula al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520).

[2]. Ia adalah Ummu Jamil al ‘Auraa’ binti Harb bin Umayah bin Abdisyams bin Abdi ’Manaf, saudari kandung Abu Sufyan bin Harb, istri Abu Lahab. Lihat Fathul Bari (3/8) dan penjelasan muhaqqiq kitab al Jami’ li Ahkam al Qur`an, Abdurrazzaq al Mahdi (20/83).

[3]. HR al Bukhari (1/378 no. 1073, 4/1892 no. 4667, 4/1906 no. 4698), Muslim (3/1421-1422 no. 1797), dan lain-lain. Lihat pula ash Shahih al Musnad min Asbab an Nuzul, hlm 267 dan al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520).

[4]. Lihat footnote sebelumnya.

[5]. Lihat al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520-526).

[6]. Lihat Tafsir ath Thabari (30/277), al Jami’ li Ahkam al Qur’an (20/82), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (8/425), ad Durr al Mantsur (8/541), Adhwa’ al Bayan (8/536 dan 554), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/1176).

[7]. Lihat footnote sebelumnya. Lihat pula al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/520-521).

[8]. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/1176).

[9]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (8/425).

[10]. HR at Tirmidzi (4/588 no. 2377), Ibnu Majah (2/1376 no. 4109), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t di dalam Shahih at Tirmidzi, Shahih Ibnu Majah, Shahih al Jami’ (5668), as Silsilah ash Shahihah (1/800), dan kitab-kitab beliau lainnya.

[11]. HR al Bukhari (5/2387 no. 5144, 5/2337 no. 5988, 4/1620 no. 4194, 4/1613 no. 4173), Muslim (4/1894 no. 2444), dan lain-lain.

[12]. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/1177).

[13]. HR ath Thabari di dalam tafsirnya (30/281), al Hakim di dalam al Mustadrak (2/573), dan lain-lain. Al Hakim berkata: “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh al Bukhari dan Muslim”.

Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani rahimahullah di dalam as Silsilah ash Shahihah (6/687). Dan dishahihkan pula oleh asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali dan asy Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr di dalam kitab mereka al Isti’aab fii Bayan al Asbaab (3/521-522). Demikian pula asy Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i rahimahullah di dalam kitabnya ash Shahih al Musnad min Asbab an Nuzul, hlm 267-268.

[14]. Lihat Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/426).

[15]. HR Muslim (1/191 no 202), dan lain-lain. Lihat pula al Jami’ li Ahkam al Qur`an (20/86-87).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *