Kisah TKI Muda di Arab part 2

Labbaika Allahumma labbaik

jalan di pinggir Masjid Al-haram penuh pertokoan.sumber: TH

Ku langkahkan kaki berjalan menuju masjid dengan keutamaan sholat seratus ribu kali lipat di banding sholat di masjid lainnya. Teringat akan hadis Nabi Muhammad yang berbunyi:

“صَلاَةٌفِىمَسْجِدِىأَفْضَلُمِنْأَلْفِصَلاَةٍفِيمَاسِوَاهُإِلاَّالْمَسْجِدَالْحَرَامَوَصَلاَةٌفِىالْمَسْجِدِالْحَرَامِأَفْضَلُ

مِنْمِائَةِأَلْفِصَلاَةٍفِيمَاسِوَاهُ

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Jarak antara pemberhentian bus dan masjid lumayan cukup jauh untuk di tempuh dengan berjalan kaki, sekitar satu kilometer. Sepanjang jalan menuju masjid sangat padat akan manusia yang lalu-lalang tak pernah sepi.

Selang beberapa menit kami berjalan, aku mulai melihat menara-menara Masjidil Haram dan kemudian kami memasuki teras masjid.

“LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK. LABBAIK LAA SYARIKA LAKA LABBAIK. INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULK LAA SYARIKA LAK”

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”

Pintu Malik Fahd dari atas. sumber : TH

Rencana Yang Gagal

Photo Ka’bah di malam Jum’at. sumber : TH
Photo Ka’bah malam Jum’at. sumber : TH

Sebelum masuk masjid, aku dan teman-temanku bersepakat untuk selalu berkumpul bersama untuk menghindari salah satu dari kami tersesat, karena memang kami semua di Indonesia sebelum berangkat tidak di training bahasa secara intens untuk menguasai percakapan berbahasa Arab amiah ( Arab keseharian ). Sehingga kemampuan berbahasa kami sangat rendah.

Dan yang terjadi kemudian tidak seperti yang di bayangkan dan direncanakan oleh kami, nyatanya kami datang di malam jum’at, yang notabenenya adalah hari libur nasionalnya Arab Saudi,( kalau di Indonesia adalah hari minggu ). Otomatis kami datang di waktu ramai-ramainya orang datang untuk Umroh.

Kegiatan thawaf pun di mulai, kami saling berpegangan tangan agar tidak saling terpisah, tak sampai satu putaran, karena saling berdesak-desakan dan aku yang terpaku dengan ka’bah, peganganku terlepas dan akupun terpisah dari teman-temanku.

Umroh selesai, dan aku masih sendiri di masjid seluas 356800 m2!

Karena aku capek dan juga lapar berjam-jam mencari rombongan belum ketemu, aku memutuskan untuk survive dan pergi ke pertokoan untuk membeli makanan.

Mungkin kalian bertanya, kenapa tidak menghubungi teman rombongan pakai HP?

Yah jawabannya simpel, HP ku terjatuh saat aku turun tangga menuju toilet!

Orang Asing yang Baik Hati

Salah satu warung makan di pinggiran masjidil haram. sumber : TH

Di sebuah toko makanan di pinggir masjid, aku membeli shawarma, semacam kebab yang berisi daging kambing, waktu itu harganya lima riyal (sekitar Rp17rb) cukup murah untuk porsi yang mengenyangkan.

Ketika aku makan, di sampingku ada orang berkebangsaan Afrika, entah dari negara apa. Dia sedang makan makanan sejenis martabak telur. Tiba-tiba dia melihat ke arahku dan tersenyum,

“ ya syabab! Hina! Akil sawa-sawa! (Wahai pemuda! Kesini! Kita makan bersama) Katanya sembari menyodorkan makanannya.

Aku tak mengerti apa yang dia katakan tapi aku paham apa yang dia maksud. Karena aku sudah cukup kenyang, kutolak tawarannya  dengan halus dengan bahasa Arab fusha atau Arab kitab yang pernah dulu aku pelajari sedikit di pesantren.

“Syukron ya ammi, Ana khalas” ( terimakasih wahai paman, aku sudah makan )”

Tenyata dia tak paham dengan perkataan ku, tapi dia paham apa yang aku maksud karena aku juga menggerakkan tanganku menolaknya.

Ternyata dia marah karena penolakanku,

“Inta muslim soh?” (Kamu seorang muslim kan)?! Tanyanya.

“Na’am, Ana muslim” (ya tentu, aku muslim) balasku.

“Liesy inta mafi akil sawa-sawa? Ana muslim sem-sem inta”!(kenapa kamu tidak mau makan bersama-sama? Saya muslim sama seperti kamu) katanya dengan nada yang agak tinggi.

Aku yang memang waktu itu tidak terlalu paham dengan bahasanya dan juga enggan untuk memperpanjang, langsung mengambil satu potong makanannya dan memakannya, dan dia langsung tersenyum lebar.

“Kidza kuays, inta min ain?” (Nah gitu bagus, kamu asalnya dari mana?)Tanyanya.

“Ana min Indonesia” (saya dari Indonesia) jawabku.

Percakapan kami terus berlanjut walau banyak salah paham di sana, sampai sekitar setengah jam berbincang-bincang, aku ingin kembali melanjutkan pencarianku dan berpamitan.

“Afwan ya ammi, uridu an adzhaba ilal masjid al’aan” (maaf wahai paman, saya ingin pergi ke masjid sekarang)” palitku dengan bahasa Arab fusha yang lugu. Dan tentu saja orang tersebut tak paham dan bertanya,

“Inta ibgha ruh ila masjid?”(kamu mau pergi ke masjid?)”

“Ah, Na’am na’am, jazakallahukhoiron ya ammi” (ah, iya iya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)” jawabku dengan gelagapan.

“assalamualaikum”

“waalaikumussalam”.

Begitulah kisahku dengan orang asing yang baik hati yang rela berbagi makanannya dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya semoga dapat menginspirasi banyak orang di luar sana, sekian terima kasih.

Dan ini tambahan saya berbagi pengetahuan dan pengalaman saya kepada para pembaca tentang tata cara beribadah umroh.

Tata cara Umroh

Ibadah Umroh dimulai dengan :

  1. membersihkan diri dengan mandi dan memakai wewangian sebelum memakai pakaian Ihrom. Di larang memakai wewangian,parfum dan semisalnya setelah memakai pakaian Ihrom.
    Catatan :
    Pakaian Ihrom bagi laki-laki, menggunakan dua lembar kain Ihrom yang berfungsi sebagai penutup pundak dan juga sarung.
    bagi wanita, menggunakan pakaian yang di syariatkan yang menutupi seluruh tubuh, tetapi tidak diperbolehkan untuk menggunakan cadar atau penutup wajah dan juga sarung tangan.
  2. Berihram dari miqat dengan membaca doa “labbaika umroh” yang artinya “aku memenuhi panggilanMu (ya Allah) untuk menunaikan ibadah umroh”.
  3. Ketika di perjalanan dari miqat menuju masjidil haram dianjurkan memperbanyak bacaan Talbiyah berikut :
    لَبَّيْكَاللّٰهُمَّلَبَّيْكَلَبَّيْكَلاَشَرِيْكَلَكَلَبَّيْكَاِنَّالْحَمْدَوَالنِّعْمَةَلَكَوَالْمُلْكَلاَشَرِيْكَلَكَ
    “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggulan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu.
  4. Masuk masjidil haram dengan membaca doa masuk masjid :
    اَللّهُمَّافْتَحْلِيْاَبْوَابَرَحْمَتِكَ
    “Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”
  5. Memulai thawaf di mulai dari Hajar Aswad dan membaca “Bismillah, Allahu akbar” dengan mengangkat tangan ke arah Hajar aswad. Dan ini juga dilakukan setiap putaran thawaf.
  6. Menyelesaikan tujuh putaran dimulai dari Hajar aswad dan berakhir di Hajar aswad. Sunah berlari-lari kecil di tiga putaran pertama dan selanjutnya berjalan, juga di sunah kan mengusap rukun yamani di setiap putaran jika memungkinkan.
  7. Ada bacaan yang di sunah kan juga ketika berada di antara rukun yamani dan Hajar aswad yaitu :
    رَبَّنَااَتِنَافِىالدُّنْيَاحَسَنَةًوَفِىالْأَخِرَةِحَسَنَةًوَقِنَاعَذَابَالنَّارِ”
    “Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka”
  8. Setelah selesai thawaf, bagi laki-laki, menutup kedua pundaknya dan menuju maqam Ibrahim sambil membaca :
    وَاتَّخِذُوامِنْمَقَامِإِبْرَاهِيمَمُصَلًّى”
    “Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebai tempat shalat.” (QS. Albaqarah: 125)
  9. Sholat sunah thawaf dua rakaat di belakang maqam Ibrahim lalu meminum air zam-zam dan menyirami kepala dengannya.
  10. Menuju bukit shofa untuk memulai Sa’i. Sebelum memulai Sa’i membaca :
    إِنَّالصَّفَاوَالْمَرْوَةَمِنْشَعَآئِرِاللَّهِ. أَبْدَأُبِمَابَدَأَاللَّهُبِهِ”
    “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah .” (QS. Albaqarah: 158)
    Lalu mengucapkan : “أَبْدَأُبِمَابَدَأَاللَّهُبِهِ
    Dan juga ketika berada di atas bukit Shofa membaca :
    لاَإِلَـهَإِلاَّاللهُوَحْدَهُلاَشَرِيْكَلَهُ،لَهُالْمُلْكُوَلَهُالْحَمْدُ،وَهُوَعَلَىكُلِّشَيْءٍقَدِيْرٌ،لاَإِلَـهَإِلاَّاللهُوَحْدَهُأَنْجَزَوَعْدَهُوَنَصَرَعَبْدَهُوَهَزَمَاْلأَحْزَابَوَحْدَهُ
    “Tiada sesembahan yang berhak di sembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dan yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak di sembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.
  11. Turun dari Shofa, lalu berjalan menuju Marwa. Disunahkan berlari-lari kecil ketika berada di antara lampu hijau bagi laki-laki,
  12. Ketika sampai di Marwa, kita melakukan seperti apa yang telah dilakukan ketika di Shofa. Dan perjalanan dari Shofa ke Marwa di hitung satu kali putaran.
  13. Lalu turun menuju ke Shofa, dan berjalan lalu berlari-lari bagi laki-laki di antara tanda lampu hijau kemudian naik ke Shofa lalu melakukan seperti apa yang telah di lakukan sebelumnya. Dengan demikian terhitung dua putaran. Lakukan terus hingga tujuh kali dan berakhir di Marwa.
    *ketika bersa’i tidak ada bacaan-bacaan khusus, maka dipersilahkan untuk membaca doa-doa,berdzikir, atau membaca bacaan yang di kehendaki.
  14. Setelah selesai sa’i, maka bertahallul dengan memendekkan seluruh rambut kepala atau mencukur gundul bagi laki-laki. Dan yang mencukur gundul itu yang lebih utama. Dan bagi wanita, cukup memotong rambut sepanjang ruas jari.
  15. Dengan mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umroh.Terima kasih telah membaca sampai terakhir, dan kisah saya tentu belum berakhir dan bersambung di part selanjutnya..

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *