Kisah TKI muda di Arab Saudi

King Abdulaziz International Airport Jeddah

 

Februari 2016, di malam musim dingin ketika adzan untuk sholat isya di kumandangkan, untuk pertama kalinya aku  bersama 5 pendaftar kerja  lainnya menginjakkan kaki di tanah rantau yang sangat jauh dari kampung halaman, Jeddah, Saudi Arabia.

Aku terpukau dengan pandangan sekitar seolah tak percaya akan kenyataan dan bertanya-tanya dalam hati,“benarkah aku sekarang berada di Arab Saudi? Di tanah yang memiliki sejarah kenabian dan tempat diturunkannya kitab suci Al Quran..

Tiba-tiba “Anta Thoriq? (Apa kamu yang namanya Thoriq?).. aku tersentak dari lamunanku dan mencari sumber suara. Seorang dengan badan tinggi kurus dan hidung mancung melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan ke arahku.

“Na’am, Ana Thoriq” ( ya, aku Thoriq ) sahutku gelagapan.

“Bi sur’ah” ( cepetan ) teriaknya sambil menunjuk ke arah mobil minibus yang ternyata teman-temanku  sudah menunggu di dalam mobil.

Ternyata orang berhidung mancung tadi adalah manajer kami, mobil pun berjalan mengantar kami ke sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggal kami kelak selama bekerja di Jeddah. Sepanjang jalan dengan jendela mobil yang terbuka aku terus terpesona melihat pemandangan sekitar berpikir “beneran nih aku lagi di luar negara? Di Arab Saudi??

 

Kelulusan sekolah

Pertengahan tahun 2015 aku lulus dari sekolah SMK ternama di kotaku.  Bersama teman-teman kami merayakannya dengan meriah. Banyak yang tidak menyadari termasuk aku, bahwa sebuah gelombang besar kehidupan sebenarnya baru di mulai.

Banyak diantara angkatanku yang kebingungan setelah lulus, untuk kuliah nilai kurang mumpuni dan menimbang biaya yang cukup besar. Jalan keluar tersimpel ya kerja.

Aku mulai mencari-cari dimana ada lowongan kerja di sekitar kota tempat aku tinggal, satu persatu aku coba untuk mengirimkan berkas permohonan kerja dan semuanya menolakku.

Sekitar setengah tahun aku mendapat SMS dari saudara sepupuku yang merantau mencari kerja ke daerah perindustrian Cikarang. “Gimana? Kamu udah dapet kerja? Kalo belum ke sini aja nyari kerja bareng, aku juga lagi daftar-daftar di pabrik, nge-kos bisa patungan berdua”. Tertarik dengan tawarannya, akupun bertekad pergi dan merantau untuk mengubah nasib. Setelah meminta izin dan restu ke orangtua tentunya.

Ada kejadian yang lucu ketika aku sampai di depan kos sepupuku, sebelumnya di terminal Bekasi aku membeli sepatu baru untuk persiapan melamar kerja, tes wawancara dan sebagainya. Nah,setelah itu aku naik angkot tujuan Cikarang dan sepatu kutaruh di samping pintu. Sekitar Lima belas menit angkot menunggu penumpangnya, setelah dirasa penuh angkot pun melaju kencang diiringi musik speaker yang membuat kuping kepanasan hehe..

“Kiri mas” teriakku dengan keras supaya supir menyadari kalau penumpangnya ada yang mau turun. Mungkin karena terlalu asyik mendengarkan lagu,aku turun sampai lupa kalau sepatu belum diambil. Sepontan aku tersadar dan berteriak “Sebentar mas!!! Ternyata angkot terus melaju tanpa memperhatikanku. Yah, karena suara musik yang berdentum kencang supir dan penumpang lainnya tidak mendengar teriakan penuh harapku.

Dengan panik aku segera mencari angkot lagi. Tak beberapa lama, datanglah angkot yang sudah kutunggu-tunggu dengan penuh harap dan kekhawatiran, tanpa pikir panjang aku langsung mencegatnya. “Pak tolong bisa cepat ngga pak susul angkot yang di depan, barangku ada yang tertinggal pak”!! Teriakku sambil mengatur nafas panik. Sambil kebingungan supirnya malah tanya “angkot yang mana dek? Nomor berapa??”

Aku pun ikut bingung karena memang aku tidak memperhatikan nomor angkot yang tadi kunaiki.”Yaudah pak jalan aja sampai terminal Cikarang, nanti biar saya yang mencari” ujarku pasrah.

Terminal Cikarang telah kulalui, tapi tetap angkot yang kucari-cari tidak ketemu. Akhirnya, aku pasrah merelakan sepatu yang baru saja kubeli seharga seratus ribu rupiah. Aku sangat panik karena waktu itu aku hanya memegang uang saku sebanyak dua ratus ribu rupiah dan itu adalah uang pegangan terakhirku.

Sesampainya di kos, kuceritakan kisah tersebut kepada sepupuku, bukanya simpati tapi yang ada dia malah tertawa.

 

Informasi yang menggembirakan

 

Selang satu bulan aku tinggal di Cikarang, aku mendapat informasi dari Orangtuaku bahwa ada perusahaan penerbangan besar di luar negeri yang membuka lowongan kerja dengan kontrak kerja selama dua tahun, tepatnya di negara Arab Saudi. Dengan support dari orangtua, aku mulai memantapkan niat dan mendaftar,mengikuti tes wawancara, membuat paspor,lisensi dan berkas-berkas lain yang dibutuhkan.

Tiga bulan berlalu, aku sedang sarapan di warung Tegal, tiba-tiba suara ringtone Handphoneku berdering, “halo, assalamualaikum, apa ini dengan mas Thoriq?”

“Waalaikumsalam, iya ada apa ya? Jawabku penasaran.

“Alhamdulillah, anda diterima bekerja di perusahaan Arab Saudi. Selamat”

Akupun langsung bersujud syukur, Alhamdulillah akhirnya aku diterima kerja.

Langsung kutelpon orangtuaku dan aku bersiap kembali ke kampung halaman untuk menyiapkan segala sesuatu yang kurasa akan kubutuhkan di sana.

 

Menganggur lagi

 

Sudah dua minggu aku tinggal bersama teman-temanku di apartemen 5 lantai, terdiri dari lebih dua ratus pekerja dari empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Yaman, dan yang paling mendominasi dari India. Dengan posisi Job yang berbeda-beda tapi belum ada pengumuman tentang kapan kami mulai bekerja. Informasi dari manajer bahwa kami harus menunggu kartu ID dan kartu izin masuk area bandara selesai. Dan itu entah kapan.

Selama menunggu, dengan bermodal uang yang di beri oleh manajer saat kami pertama kali datang, aku dan teman-temanku memanfaatkan waktu yang ada untuk jalan-jalan menelusuri perbukitan batu di dekat apartemen yang memang berada di ujung kota. Mencicipi berbagai makanan lokal seperti paratha dan roti khubs dicampur kuah kacang atau daging ayam dan kambing untuk menu sarapan, lalu ada nasi bukhari untuk makan siang dan malam serta shawarma atau yang sering di kenal di Indonesia dengan nama kebab. Juga tak lupa minuman khas yaitu gahwah (semacam kopi) dan juga syai’ khalib (teh susu)

Di sekitar apartemen juga ada fasilitas olahraga dari sepak bola futsal, dan juga basket, dari sekian olahraga tersebut aku lebih memilih untuk jalan-jalan ke perbukitan batu dan memanjat tebing batu walau tanpa pengaman.

jalan2 sore di pinggiran kota jeddah

 

Pergi ke tanah suci

Satu bulan berlalu, dengan apartemen tempat tinggal kami yang berada di kota Jeddah, yang berarti berdekatan dengan kota suci Makkah, kami bersama-sama merencanakan pergi umroh bersama-sama! Ya, ini adalah awal pertama kali aku, orang kampung  yang tidak terpikir sedikitpun aku bisa pergi ke kota suci makkah untuk menjalankan ibadah yang mulia , ibadah umroh.

Kami rombongan berlima setelah sholat magrib dan telah berpakaian Ihrom mulai naik ke bus yang sudah menunggu di pinggiran masjid. Memang ada bus yang khusus mengantar jamaah yang ingin beribadah umroh seminggu sekali setiap malam jum’at, dan akan di jemput hari jum’at sekitar jam satu siang.

Bus mulai berjalan dan lantunan takbir dan tahlil terus diucapkan oleh supir dan para penumpang, tak terasa setengah jam berlalu dan bus mulai memasuki gerbang kota Mekkah. Dari kejauhan samar-samar mulai tampak jam gadang raksasa yang tampak yang sangat terang benderang. Aku masih terpukau tak percaya pada apa yang aku lihat. Dadaku terasa penuh dengan luapan rasa gembira.

Di pinggiran jalan, mulai kulihat banyak manusia yang memakai pakaian putih yang sama sepertiku. Dan bus pun mulai berhenti. “Thafaddol yaa syabab”! ( silahkan wahai para pemuda )!” Teriak supir bus sambil membuka pintu.

Bersambung…

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *