Kisah TKI Muda di Arab part 3

Mencoba Survive

naik taksi. photo by TH with LG G4 stylus

Jam menunjukkan pukul 14.30, aku terduduk di trotoar jalan, meneguk sebotol air mineral yang baru saja kubeli. Aku sadar bahwa aku sudah tertinggal oleh bus yang di naiki oleh rombonganku. 

Manusia lalu-lalang di hadapanku sibuk dengan urusannya masing-masing.

Ku beranikan diri bertanya ke penjaga toko di depan ku. 

“ afwan ya shodik, aina sayyaroh ruh ila Jeddah?” (Maaf kawan, dimanakah mobil (angkutan umum) yang menuju Jeddah?) tanyaku dengan mengganti kata ‘dzahaba’ (pergi) dengan ‘ruh’ (pergi), teringat akan bahasa yang dipakai oleh orang asing yang kutemui sebelumnya.

Penjaga toko yang sedang menawarkan barangnya menoleh ke arahku dan menjawab sambil menunjuk-nunjuk jalan.

“Hadza thoriq, alathul, mumkin wahid kilo, ba’din fi kubry, hunak katsir sayyaroh”. (Ini jalan, lurus terus, sekitar satu kilometer, nanti di sana ada jembatan, di sana banyak mobil) 

“Syukron ya shodik, assalamualaikum” (terimakasih kawan, assalamualaikum) jawabku sambil melangkahkan kaki menuju arah yang ia tunjukkan.

“Waalaikumussalam”.

Pemberhentian taksi mekkah. Photo by TH with HTC desire 820

15 menit aku berjalan dan aku telah berada di bawah jembatan. Mataku mencari-cari ke segala arah di manakah kendaraan umum?.

Dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan orang-orang yang kupikir seperti yang pernah kutemui dulu di terminal Rambutan, Jakarta.

“Riyadh! Riyadh!”

“Dammam! Dammam!”

“Madinah! Madinah!”

“Jeddah! Jeddah!” 

“Fien ruh inta ya shodik?” ( mau kemana kamu kawan? )Tanya seorang berkebangsaan Yaman dari dalam mobil sedannya yang berisi beberapa orang tiba-tiba entah kapan sudah ada di sampingku. 

“Jeddah, Al balad” jawabku.

“Hayya, ruh jua”  ( ayo masuk kedalam (mobil)) tawarnya.

“Afwan, kam fulus ya shodik?” (Maaf, berapa tarifnya ya kawan?) tanyaku.

“Isyriin riyal” (20 riyal)

“Oke” aku langsung masuk ke mobilnya dan duduk di kursi yang tinggal tersisa 1 bangku yang kosong, kemudian mobil langsung melaju mengantarkan kami ke jeddah.ternyata, mobil yang kunaiki itu adalah sejenis mobil jasa travel, tanpa agency.

Setengah jam sudah terlewati, seluru penumpang lain sudah turun, tinggal aku sendiri penumpang terakhir.

“Fien makan inta?”( dimana tempat tinggalmu) tanyanya mengagetkan ku yang sedang melamun.

“Arrahmaniya petrol, inta ma’lum? Ghorib min hunak, isnen kilo bass,” ( Pom bensin Arrahmaniya, kamu tau? Dekat dari sana cuma 2 kilometer ) jelas ku.

Setelah mendengarnya, Alhamdulillah dia paham dan tanpa banyak tanya lagi mobil terus melaju mengantarkan sampai tujuan.

Citt.. puk, aku terbangun dari tidur, kepalaku terpentok kursi depan di karena kan supir yang mengerem mendadak.

Memang, supir di Arab Saudi kebanyakan ugal-ugalan ketika mengendarai kendaraan. 

“Qum ya shodik!” ( bangun teman!) tegurnya sambil tertawa.

 Ya, mobil berhenti di depan apartemen tempatku tinggal. Aku buru-buru merogoh kantong saku dan membuka dompet. Dua lembar sepuluhan riyal ku berikan kepadanya dan lima riyal kuberikan sebagai bonus tanda terimakasihku.

“Jazakallaukhairon ya shodik” 

Menunggu ditemani burung. Makkah. Photo by TH. with HTC desire 820

Ramadhan Kareem

Pedagang lokal daerah Al Balad, Jeddah. photo by TH with speedup s8

Ini. Bulan ke 5 aku menganggur di Arab Saudi menunggu proses pembuatan dan perizinan kartu izin masuk bandara khusus kargo dan juga kartu ID perusahaan selesai.

Mungkin terdengar aneh, 5 bulan belum selesai?! Tapi ya memang begitu kenyataannya yang Alhamdulillah nya walau kami menganggur, kami tetap menerima gaji dan juga uang makan, walau tanpa uang lembur, tapi itu sudah sangat mantap sekali. 

Bayangkan saja, tidak kerja, 100% menganggur tapi di gaji penuh! Walaupun sudah ada beberapa temanku yang sudah duluan kerja.

Memasuki bulan Ramadhan, aku merasakan perbedaan waktu yang lumayan signifikan. Puasa di Indonesia dari sahur sampai berbuka sekitar 13-14 jam, sedangkan di Arab lebih lama yaitu 14-15 jam. 

Dan juga ketika berbuka puasa, bisa di katakan selama ramadhan, kami tidak usah mengeluarkan sepeserpun uang untuk makan.

Karena setiap hari di setiap masjid mengadakan Iftor buka bersama setiap hari dari menu pembuka air es jus atau sirup,teh panas, gahwah (semacam minuman jamu-jamuan Arab), kurma,syurbah (semacam bubur Arab) sampai roti khubz. 

Coba kalian tebak, setiap masjid tiap hari menyiapkan menu yang sebegitu mewahnya dan lengkapnya (menurutku) dalam porsi ratusan.

Sekaya apa pengelola masjid atau sebagus apa management pengelola masjid sampai bisa menyiapkan sedemikian banyaknya tanpa pernah kekurangan, yang ada malah kelebihan porsi.

Yap, bukan dari itu semua, tapi semua itu berkat masyarakat sekitar yang saling berlomba-lomba untuk menyumbang.

Dari bapak-bapak sampai anak kecil mereka yang membawa makanan serta minuman dari rumah-rumah mereka. Ada juga dari mereka yang memesan ke sebuah rumah makan dalam porsi besar untuk kemudian pihak rumah makan yang membawakannya ke masjid-masjid. 

Seringkali aku membawa pulang usai sholat magrib satu atau dua kotak nasi kabsah dengan lauk ayam bakar atau ayam goreng, yang ku simpan untuk dimakan sahur. (Hehe).

buka puasa bersama di masjid perumahan, Jeddah. photo by TH with speedup s8
Menu buka puasa bersama di masjjid jeddah. photo by TH with speedup s8

Jadi dari pengeluaran ku yang biasanya per bulan sekitar 350-400 riyal per bulan,di bulan Ramadhan bisa menurun drastis menjadi sekitar 100-150 riyal itupun hanya kupakai untuk jajan atau jika sedang bosan dengan menu berbuka yang menunya daging ayam terus-menerus, hanya variasi cara memasaknya saja yang berbeda. 

Aku merasa agak senang ketika dikabari temanku yang sudah bekerja, ternyata di bulan Ramadhan, kerjaan sangat menumpuk, bisa lebih dari 3 kali lipatnya atau lebih dari hari-hari biasanya.

Tetapi aku merasa kesal ternyata di bulan Ramadhan ternyata setiap karyawan yang bekerja mendapatkan bonus uang tambahan, yah dikarenakan pekerjaan yang menumpuk jadi wajarlah jika mendapatkan uang bonus.

Di waktu malam hari, aku dan kawan-kawan yang belum bekerja pergi bersama-sama mengunjungi daerah perbelanjaan terbesar dan paling populer di daerah Jeddah.

Yang di sana setiap rombongan umroh dari Indonesia pasti datang ke sini. Yap daerah yang berada di dekat laut merah, daerah Al balad. 

Di hari biasa, memang di Arab ramai-ramainya pertokoan,taman hiburan dan lain-lain ya malam hari, karena memang masyarakat nya begitu, waktu siang digunakan untuk istirahat dan di malam hari untuk keluar rumah bekerja atau bepergian.

Tapi khusus di bulan Ramadan, daerah perbelanjaan ini lebih ramai, banyak penjual-penjual kaki lima seperti di Indonesia, kalau di hari biasa tidak ada.

Ini yang ku cari, mereka orang-orang Yaman, Arab Badui, Mesir, dan negara-negara sekitar menjajakan makanan dan minuman khas dari daerah dan negaranya masing-masing.

Suasana malam Al Balad Jeddah. phpto by TH with lenovo A6000

I’tikaf

Brrrrr…… brrrrrrr….. 

HP di saku berdering, teman lama dari SMP menelepon lewat WhatsApp, namanya Nur.

“Riq, kamu kerja di Arab kan? 

“Ya kenapa ya?”

“Ane lagi umroh Riq, dari pertengahan bulan Ramadhan sampai selesai sholat Ied. Ente bisa nemenin ane ngga?”

“Oke, karena ane lagi nganggur dan orang kantor pastinya libur buat ngurus kartu ID. Sama siapa ente di Mekkah?” Tanyaku penasaran.

“Sama rombongan, ada sepuluhan orang. Pembimbing nya Ustadz Abu Sa’ad Muhammad, ente pernah denger? Yang terkenal sering memberi bantuan ke Suriah.”

“Wah, pernah liat beliau di salah satu stasiun TV lokal.” Oke, dua hari lagi ya, tunggu di pintu 12, ketemuan di sana ya.” 

Bersambung……

Terima kasih telah membaca sampai terakhir.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *