Kisah TKI Muda Part 4

Sedikit kisah keluh

photo by TH with HTC desire 820

“Assalamualaikum! Gimana kabarmu?” Sapaku sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya si Nur, teman masa SMP di pesantren ketika kami bertemu di pintu 12, sesuai janji. 

“Wa’alaikum salam, Alhamdulillah baik, udah woi nepuknya, sakit!” Jawabnya sambil melepaskan tanganku dan berusaha menjauh.

Memang, sekolah Pesantren ku dulu  adalah termasuk sekolah terkenal dengan jenjang berkelanjutan mulai dari SD,SMP, dan SMA yang mengharuskan tinggal di asrama dengan bayaran per bulan yang tidak murah.

Aku memutuskan untuk berhenti dari sana ketika lulus SMP, karena berbagai alasan, Salah satunya adalah karena alasan ekonomi keluargaku. 

Aku memutuskan untuk pindah ke sekolah kejuruan swasta yang ada di kotaku dengan bayaran SPP yang jauh lebih murah dan juga memiliki kejuruan yang bisa di andalkan untuk langsung bekerja setelah selesai lulus.

Entah mengapa dari sekian banyak jurusan,aku mengambil jurusan otomotif untuk ku pelajari selama 3 tahun. 

Ketika aku meminta izin ke orangtua untuk berhenti dari pesantren, mereka membolehkan dengan syarat, cari sekolah yang laki-laki dan perempuannya di pisah.

Memang, dari kecil aku sudah terbiasa sekolah dengan lingkungan yang seperti ini, karena juga aku tumbuh di lingkungan pesantren kecil di daerah Lampung yang di rintis oleh kakekku.

Yah, mungkin karena pengaruh lingkungan yang seperti itu, aku saat ini agak susah dalam bergaul, apalagi dengan lawan jenis,tapi aku tak bisa seratus persen menyalahkan keluargaku.

Karena sekarang aku sadar akan kekuranganku, aku harus berusaha menghadapinya, lagipula aku bukan anak kecil lagi. (Hehe)

I’tikaf dan Ied 

i’tikaf siang hari di masjidil haram. photo by TH with HTC desire 820

“Assalamualaikum Ustadz, ini teman saya, Thoriq, dari Lampung” 

Nur memperkenalkanku kepada Ustadz Abu Sa’ad.

“Waalaikum salam. Anta Thoriq? Dari Lampung, Ana ingat dari lampung ada kenalan Ana yang namanya Abu Thoriq, antum kenal?” Tanya Ustadz tersebut sembari menoleh ke arahku.

Aku langsung tersenyum lebar terasa dunia menjadi sempit.

“Abu Thoriq? Itu nama bapak saya, saya Thoriq, anaknya abu Thoriq.”

Sang Ustadz tertawa. 

“Antum di sini umroh juga apa kuliah?”tanyanya

“Ana kerja di Jeddah, di bandara.” Jawabku.

“Ah, Ustadz, boleh tak Ana ikut bareng rombongan, Ana ke sini ingin menemani si Nur” Lanjut ku.

“ ya tidak masalah, kita di sini bebas selama 20 hari i’tikaf sampai Ied.”

“Syukron Ustadz.”

“Waiyyak.”

Jadi selama i’tikaf, Masjidil Haram dipenuhi oleh para jamaah yang datang untuk menetap dan beribadah selama 10 hari terakhir Ramadhan, ada yang 20 hari seperti Nur, dan bahkan ada yang sampai 1 bulan penuh!.

Tiba saatnya hari yang ditunggu-tunggu,di tengah malam tepat jam 12.01, muncul sinar laser hijau dari puncak zam-zam tower yang sangat terang menjulang ke langit menunjukkan bahwa esok adalah hari Ied, ied Fitri.

Jam 3 pagi, masjid sudah sangat penuh sesak, aku dan Nur, waktu itu ada di puncak lantai 3 dan di sana sudah sangat padat manusia, bergerak pun susah. Takbir terus dikumandangkan sampai mulainya sholat Ied. Aku masih ingat betul imam sholat Ied saat itu adalah Syaikh Sudais.

Selesainya sholat Ied, semua orang langsung berhamburan keluar dan ya, seketika Masjidil haram sepi. Itu pertama kalinya aku melihat Masjidil haram sepi.

Rombongan temanku, si Nur juga langsung kembali ke hotel dan kami akhirnya berpisah.

Semoga kita dapat bertemu kembali kawan..

 

Makanan Yang Melimpah

www.almarai.com

Sudah menjadi tradisi, sebagaimana masjid-masjid di Arab ketika bulan Ramadhan, selalu mengadakan buka puasa bersama setiap hari.

Masjidil Haram pun terdapat buka bersama setiap harinya, di tengah kesibukan beribadah ada yang sedang umroh, tawaf, sai dan lain-lain.

Di samping itu juga, banyak warung makan di sekitar masjid yang membuka pintu sedekah bagi para jamaah yang ingin menyumbang.

Sebagian uangnya untuk nantinya di buatkan makanan yang di tempatkan di dalam kotak-kotak, lalu kemudian mereka membagikannya ke orang-orang yang membutuhkan.

Mereka berteriak di depan toko.

“Tafaddol ya hajj! Shodaqoh!” (Silahkan wahai hajj (jamaah)! Shodaqohlah!).”

Dan juga ketika waktunya berbuka, mereka meletakkan papan yang bertuliskan “silahkan bagi yang merasa membutuhkan silahkan mengantri dan ambil gratis” dalam bahasa Arab.

Dan di waktu sahur, ada pembagian makanan, tetapi karena budaya di Arab jika mereka sarapan, mereka tidak makan nasi, tapi roti sama seperti negara-negara Eropa.

Dari situ makanan sahur yang di bagikan hanyalah roti dan tambahan selai keju serta laban, sejenis minuman yang terbuat dari fermentasi susu, terasa agak asam memang rasanya.

Bagi yang belum terbiasa mungkin tidak doyan karena memang seperti susu basi, tapi, setelah beberapa hari aku sudah terbiasa dan tidak lengkap rasanya kalau makan roti tanpa laban.

Sering rasanya aku iri kepada orang-orang Arab yang mereka berlomba-lomba berebut untuk saling berbagi. 

Aku pernah melihat dua orang Arab saling beradu mulut, salah satu dari mereka mengatakan “saya duluan sampai di sini!, jadi saya yang boleh membagikan kurma di daerah ini! Kamu ambil tempat lain!”

MasyaAllah!

menunggu berbuka puasa di makkah. pontianak.tribunnews.com

Pencuri!

photo by TH with HTC desire 820

Ini hari ke 13 aku berada di Masjidil Haram dan sudah memasuki 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Masjid mulai bertambah ramai dan penuh hingga merapat ke gedung bangunan perluasan masjid yang juga telah penuh oleh orang-orang yang ingin mencari keutamaan malam Lailatul Qadr yang hanya ada di 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Tapi yang kulihat malah banyak orang yang seperti hanya pindah rumah, membawa kasur lipat, selimut, bantal, kursi dan lainnya, kuperhatikan mereka beristirahat dan tidur di waktu siang hari dan beribadah penuh di waktu malam hari sampai sahur dan sholat subuh.

O iya, untuk sholat tarawih, ada dua kali sholat. Yang pertama dimulai ketika seusai sholat isya, dan yang kedua dimulai sekitar jam 2 malam.

Jadi semisal ada yang ingin langsung istirahat seusai sholat isya, bisa tidak ikut sholat tarawih seusai sholat isya dan sebagai gantinya, dia bisa ikut yang di jam 2 malam. Begitu juga sebaliknya. 

1 juz setiap sholat tarawih, dan 30 juz dalam 1 bulan. 

Yang sangat kusuka ketika sholat di Mekkah yaitu imamnya, beberapa imam yang dari kecil ku kagumi mengimami sholat. Seperti Syaikh Abdurrahman As Sudais, Syaikh Syuraim dan lain-lain.

Seringkali mataku berkaca-kaca ketika mendengar bacaan Alquran yang di lantunkan oleh para maSyaikh tersebut.

Kejahatan memang tak mengenal tempat dan waktu, aku menemui dengan mata kepalaku sendiri beberapa kasus pencurian yang berlokasi di masjid dan di tanah suci Al Haram. 

Pertama ada seorang bule yang mengaku berasal dari Afghanistan datang ke Mekkah untuk i’tikaf, dia menghampiriku dan dia bilang hanya bisa bahasa Inggris.

Dia meminta sedikit bantuanku, dia bilang kalau tasnya yang berisi uang, kartu ATM, buku paspor dan dokumen-dokumen lainnya dicuri ketika dia duduk berdzikir! 

Dia terlihat sangat panik dan kebingungan, aku hanya bisa sedikit membantunya dan menenangkannya. Ku beri dia beberapa lembar uang yang kupunya rang mengantarkannya ke pos penjagaan polisi terdekat.

Yang kedua ini dari teman kerjaku, kasusnya sama, tasnya yang berisi HP, kartu ATM, dan banyak kartu-kartu penting lainnya, dari kasus itu dia mendapatkan kerugian sekitar 10.000 riyal! Setara 30jt lebih!

Yang ketiga, ketika aku pergi mencari makanan ringan di pertokoan pinggir jalan, tiba-tiba ada mobil menghampiri, seorang di dalamnya menyapaku dan meminta bantuanku.

Dia bercerita, dia berasal dari kota Riyadh, bersama keluarganya datang untuk i’tikaf, tapi dia ingin pulang karena tasnya yang berisi kartu-kartu dan uang di curi, kulihat kursi belakang mobilnya ada 1 orang perempuan yang kurasa istrinya dan 3 anak kecil.

Aku kemudian memberi sedikit uang ku untuk membeli bensin dan juga bekal di jalan pulang. Dan mereka sangat senang dan juga sangat berterima kasih padaku. Aku pun merasa senang.

Aku berpikir, ada saja orang yang berbuat demikian kepada orang yang sedang beribadah mencari akhirat di tanah suci Mekkah dan juga di masjid yang sangat mulia Masjidil Alharam. 

Kuceritakan ini agar untuk ke depannya bagi jamaah yang ingin umroh, harap selalu berhati-hati terhadap barang bawaan anda.

Sekian untuk saat ini, bersambung ke part selanjutnya esok hari…

Terima kasih telah membaca sampai selesai..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *